Pages - Menu

topbella

Kamis, 11 Oktober 2012

Sahabat Kecil


Seperti biasa, Ika menungu Devan menjemputnya di depan rumah. Sudah menjadi kebiasaan rutin bagi Devan untuk mengantar jemput Ika setiap hari. Akan tetapi berbeda dengan hari ini. Sudah hampir jam 7, Namun Devan belum kunjung terlihat batang hidungnya. Ini sudah ketiga kalinya ia seperti ini. Dengan sedikit tidak sabaran, Ika mengambil ponsel dan menelepon Devan.
“Hallo, ada apa Ka?”, jawab Devan dari seberang telepon.
“Kamu dimana, Van? Sejak tadi aku menunggumu didepan rumah!”, saut Ika sebal.
“Astaga! Ika maaf. Aku sudah di sekolah dan. . .” tutututtt..
Ika memutuskan sambungan telepon sepihak, tanpa mendengarkan penjelasan Devan hingga selesai. Saking sebalnya, Ika langsung me-nonaktif-kan ponsel dan memasukkan ke dalam tas ranselnya. Ia pun segera berlari menuju garasi untuk mengambil motornya dan bergegas menuju sekolah. Ia benar-benar sangat terlambat sekarang. “Pasti gara-gara pacar barunya lagi!”, rutuknya dalam hati.
            Sesampainya di sekolah, Ika buru-buru memarkir motornya dan berlari kecil kearah kelas. Persis di depan pintu kelas, Devan sedang menunggunya.
“Ka, kok ponselmu mati sih? Aku dari tadi neleponin kamu terus tau!”, kata Devan.
“Ponselku lowbat.”, saut Ika singkat sambil berjalan menuju bangkunya yang berada persis didepan bangku Devan.
“Kamu kenapa, Ka? Kok pagi ini beda sih? Marah ya sama aku?”, tanya Devan seraya mengikuti Ika ke bangkunya.
Dengan malas Ika menatap Devan dan berkata, “Ada urusan apa kamu barusan, sampai-sampai kamu lupa menjemputku? Ini sudah ketiga kalinya kamu begini.”.
“Mmmhh.. Tadi aku menjemput Ririn.”, jawab Devan dengan nada menyesal.
“Astagaa, belakangan kamu selalu memberiku alasan yang sama! Oh iya, aku lupa sekarang kamu sudah punya pacar. Maaf deh. Mulai sekarang kamu tidak perlu menjemputku. Aku bisa sendiri.”, ujar Ika sebal.
“Loh? Kenapa?? Aku tidak keberatan kalau harus menjemputmu dulu. Kita kan bisa berangkat bertiga.”, kata Devan polos.
“Kamu memang tidak keberatan, tapi Ririn? Aku tidak mau mencari perkara. Ririn juga temanku. Dia pasti akan cemburu kalau melihat kita tetap dekat.”, jawab Ika ketus.
Belum sempat Devan menanggapi jawaban Ika, datanglah seorang guru yang akan mengajar dikelas itu. Dengan terpaksa Devan kembali ke bangkunya dan hanya bisa menatap Ika dari belakang. Disisi lain Ika sangat bersyukur guru segera datang, sehingga dia tidak perlu lagi berlama-lama menatap wajah polos Devan.
            Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir. Setelah guru pergi, Ririn langsung menyeruak masuk ke dalam kelas dan menghampiri Devan. Kedatangan Ririn, membuat Devan tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Ika. Melihat Ririn bersama Devan, dada Ika berasa sesak. “Seharusnya saat ini Devan bersamaku dan mengantarku pulang.”, gerutunya sambil melangkah meninggalkan tempat itu. Selama mereka bersahabat, ini adalah kali pertama salah satu diantara mereka memiliki pacar. Dan semenjak Devan berpacaran, waktu kebersamaan mereka semakin berkurang. Devan selalu menjadikan Ririn sebagai prioritas utamanya. Hal ini yang membuat Ika sakit hati. Ia sangat kecewa dengan perubahan sikap Devan.
            Hari demi hari berlalu. Persahabatan Ika dan Devan kian merenggang. Jangankan terlihat bersama, untuk saling bertegur sapa saja mereka tidak pernah. Keadaan ini terus berlanjut. Hingga suatu sore, Devan memutuskan menemui Ika di rumahnya.
Tingtong… bel rumah Ika berbunyi. Tak lama kemudian, datanglah seorang ibu yang masih terlihat segar dan awet muda.
“Oh, ternyata nak Devan. Mari masuk. Nyari Ika ya?”, kata Ibu Ika ramah.
“Hehe, tante tau aja. Iya, Devan mau cari Ika, tan. Ika-nya ada?”, tanya Devan.
“Ada. Itu dia lagi duduk-duduk di halaman belakang. Langsung samperin kesana aja Van.”, jawab ibu Ika yang sudah tidak asing lagi dengan kedatangan Devan.
“Iyadeh tante, Devan permisi mau nyari Ika dulu.”, kata Devan. “Uhm.. Tan, Devan boleh mampir ke dapur dulu gak? Mau minta minum nih. Haus banget sehabis latian langsung meluncur ke sini. Hehehe..” lanjutnya lagi.
Pernyataan Devan yang to the point itu, membuat ibu Ika tersenyum. Sudah bukan hal aneh lagi jika Devan bersikap seperti itu di rumah Ika. Bagi Devan, rumah Ika adalah rumah kedua baginya. Dan bagi ibu Ika, Devan sudah seperti anaknya sendiri.
“Boleh. Devan ambil sendiri aja di dapur ya . Tante sekarang harus berangkat ke kantor papa Ika dulu, ada berkas yang perlu tante bawakan. Di kulkas juga ada pudding kesukaan kalian. Sekalian bawain Ika ya. Masih inget tempat dapurnya kan?”.
“Wah,wah. Devan dapet paket plus, plus nih tan. Hahaha.. Masih dong. Sudah hampir 11 taun sering maen-maen ke sini, kalo Cuma letak dapur sih masih inget banget tan.”, jawabnya mantap. Puas denan jawaban Devan, ibu Ika pamit pergi.
            Setelah puas mengobok-obok dapur, Devan memutuskan mengambil 2 kotak susu dan 2 piring kecil pudding. Dari jendela dapur, ia dapat melihat Ika yang tengah duduk di sebuah ayunan. Terpancar ketenangan dan keceriaan dari wajahnya. “Dari dulu dia tidak pernah berubah.” Batin Devan. Tanpa pikir panjang, ia segera menemui Ika di halaman belakang.
“Susu coklat!”, pekik Ika dan langsung menyambar sekotak susu yang dibawa Devan. Susu coklat adalah minuman kesukaan Ika. Dan hal itu diketahui persis oleh Devan.
“Wowowooo.. slowly girl! Nih aku juga bawa pudding buat kamu.”, kata Devan. “Ka, kenapa kamu senang sekali berada disini?”, tanyanya.
“Menurut kamu?”, tanya Ika yang kini sibuk meminum susu coklatnya.
“Hmm.. Tempat ini sejuk, tenang, dan bisa membuat pikiran jadi tenang Apalagi sore-sore gini, Hahhh… nyaman banget. Ini tempat nongkrong favorite kita dulu.”. Tanpa ia sadari, Devan sudah menjawab pertanyaannya sendiri.
Ika tersenyum puas dengan jawaban Devan. “Tidak hanya dulu, Van. Sampai sekarang, tempat ini masih menjadi tempat tongkrongan favoriteku kok.”, ujar Ika kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Devan.
“Aku juga sama. Tempat ini masih menjadi tempat favoriteku. Yah, walaupun sekarang sudah jarang nongkrong disini sih.”, jawab Devan. Ingatannya seketika berkelana menembus waktu. Ia kembali teringat akan masa lalunya disini. Masa-masa dimana dirinya dan Ika kecil menghabiskan waktu di tempat itu. Terpancar raut kegembiraan diwajah mereka. Terlihat jelas kalau mereka sangat nyaman satu dengan yang lainnya. Sang waktu pun sepertinya ingin menghentikan waktu saat itu juga, agar keceriaan diwajah mereka tidak berlalu begitu saja. Berbeda dengan sekarang, mereka bukan lagi anak-anak yang dapat bermain riang gembira tanpa beban. Kini berbagai macam problema kehidupan mulai menghampiri mereka satu persatu. Problema yang semakin membuat Devan paham ‘bagaimana makna keberadaan Ika di hidupnya.’.
“Woy! Sore-sore melamun. Hati-hati kesambet lho!”, seru Ika membuyarkan lamunan Devan. “Yahh, aku tau belakangan ini kamu sudah jadi super sibuk, dan sekarang kamu juga sudah ‘punya pacar’. So, tidak mungkin dong kamu sering-sering maen ke sini.”, lanjutnya yang sengaja diberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
“Hehehe.. Tenang aja Ka, walaupun seperti itu aku selalu ada disini kok.”, kata Devan sambil menunjuk dadanya sendiri. “Di hatimu, Ika.”, lanjutnya.
Saat itu juga, tanpa sengaja mata Ika dan Devan bertemu. Perasaan aneh seketika menghampirinya ketika ia menatap mata Devan. Dari sorot matanya, Ika tahu persis, Devan sedang tidak bercanda. Hal itu membuat Ika tersadar, Devan yang ada dihadapannya sekarang bukan lagi Devan kecil yang dulu selalu mengikutinya dan setia menemaninya bermain di halaman belakang ini. Jelas bukan.. Di hadapannya sekarang adalah sosok Devan dewasa yang kini tengah memiliki pujaan hatinya sendiri dan tidak lagi bisa setiap saat menemaninya. Ika pun mulai paham, ‘bagaimana makna keberadaan Devan di hidupnya’.
“Aaa, Devan to tweet deh. Ngga terasa, ternyata kamu sudah gede ya sekarang. Hahaha”, ujar Ika sambil mengacak-acak rambut Devan, dan berusaha terdengar setenang mungkin.
“Iya dong ah, aku sekarang uda gede, Ka. Sudah bisa bikin cewek klepek-klpek nih. Hahaha… Tapi bukan hanya aku yang jadi gede, kamu juga sudah gede sekarang.”, ujar Devan tersenyum jail. “Oiya Ka, kamu sudah tidak marah kan tentang kejadian kemarin?”, lanjut Devan hati-hati.
“Tidak, aku sudah melupakannya. Pertemanan 11 tahun kita, tidak akan pupus begitu saja hanya karena hal kecil seperti ini.”, jawab Ika sambil memberikan senyuman seikhlas mungkin pada Devan.
“Friendship forever sahabat kecilku?”, tanya Devan seraya menyodorkan jari kelingking kanannya.
“Yeah, friendship forever”, saut Ika dan mengaitkan jari kelingking kanannya ke kelingking Devan, seperti kebiasaan mereka dulu ketika mereka baikan dan saling meminta maaf. “Masih ingat lagu ini?”, lanjut Ika seraya memutar sebuah lagu dari mp3 player miliknya. Ika memutar lagu kesukaan mereka berdua. Mendengar lagu yang diputar Ika, terbesit sebuah senyum dari bibir Devan. Ia merangkul Ika dan perlahan ikut bernyanyi mengikuti alunan musik.

♫◦ Now everyday is something new ◦♫
♪ And any path we take, I’m looking forward too ♪
♪ The way we try, and never quit ♪
♪ The way that all the pieces fit ♪
……
♫ Forever I’m here for you, you’re here for me ♫

Love Experience


Aku adalah seorang remaja putra berusia 16 tahun. Sekarang aku tengah duduk di bangku kelas sebelas sekolah menengah atas. Aku memiliki seorang teman dekat perempuan yang kini selalu mengisi hari-hariku. Ia membuat hari-hariku yang dulunya biasa saja, kini menjadi lebih berwarna. Sebut saja namanya Arsen.
            Pertama kali mengenal gadis ini saat aku masih duduk di bangku SMP. Kebetulan dia adalah teman sekelasku. Ia sering membantuku dalam kegiatan di sekolah dan sering menuntunku jika aku mengalami kendala dalam mengukuti pelajaran di kelas. Saat jam istirahat, aku sering mengobrol dengannya. Terkadang kami berfoto bersama sekedar untuk mendokumentasikan moment-moment tertentu. Pertemanan kami terus berlanjut sampai kami duduk di bangku SMA.
            Saat masa orientasi siswa, aku tertarik dengan salah satu sahabatnya. Entah mengapa gadis yang satu itu selalu menarik perhatianku. Sebut saja namanya Dewi. Aku pun melakukan pendekatan demi pendekatan. Setelah melihat respon positif darinya, aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku. Tak kusangka Dewi memiliki perasaan yang sama denganku. Akhirnya kami berpacaran.
            Setelah lama menjalin hubungan dengan Dewi, konflik demi konflik pun datang. Saat itu pun Arsen datang kembali. Aku mulai sering bercanda gurau lagi bersamanya. Karena kebetulan Arsen adalah sahabat dari Dewi, aku jadi sering bercerita mengenai Dewi. Aku juga sering meminta beberapa pendapatnya mengenai konflik-konflik yang tengah aku hadapi. Walaupun sering mendengar keluhanku, Arsen seolah-olah tidak pernah bosan. Ia dengan sabar mendengarkan sampai ceritaku usai, setelah itu biasanya ia memberikan beberapa solusi dan terkadang ia hanya membalas dengan candaan hanya sekedar agar aku ikut tertawa.
            Hari demi hari berlalu, aku putus dengan Dewi. Disaat aku berpikir aku akan sendirian, ternyata Arsen masih disampingku. Ia masih sabar mendengarkan keluhan-keluhanku dan masih tetap mengajakku bercanda gurau seperti saat SMP dulu. Sekian lama aku menghabiskan waktu bersamanya. Tidak tahu bagaimana mulanya, tiba-tiba saja perasaan aneh perlahan menghampiriku. Aku sangat nyaman berada disisinya dan ingin selalu dekat dengannya. “Mungkin aku jatuh cinta lagi”, pikirku saat itu.
            Singkat cerita, tepat pada tanggal 23 di bulan November, walaupun tidak secara langsung melainkan hanya melalui perantara pesan singkat, aku memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatiku. Aku mengungkapkan semua yang telah aku pendam selama ini. Dan tidak lupa, aku menanyakan apakah dia bersedia menjadi gadisku. Hatiku seakan meloncat dari tempatnya ketika pertama kali membaca balasan dari Arsen. “Ia menerimaku!”. Hingga sekarang ia masih menemani dan mewarnai hari-hariku. Aku cukup senang karena dia yang mengisi dan menemani hariku saat ini. Walaupun terkadang ia membuatku jengkel, tetapi ia mampu membuatku tidak bisa jauh darinya. I Love her more than everything, cs she is my everything.

Sinopsis Novel Beastly


Kyle cowok paling kaya dan popular di sekolahnya. Ia tidak ingin turun derajat dengan beragul bersama anak-anak culun dan tidak pupoler. Mengejek dan menindas anak-anak tidak popular adalah hiburan sehari-harinya. Karena keangkuhannya, seorang penyihir mengutuk Kyle menjadi makhluk buruk rupa. Sesosok monster yang ditakuti teman-temannya, bahkan ayahnya sendiri pun membuangnya dengan halus ke tengah hutan. Kutukan itu bisa terurai apabila Kyle bisa menemukan gadis yang mencintai dia apa adanya. Gadis yang dapat melihat di balik keburukannya.
Walaupun telah membuang Kyle, di tengah hutan, ayahnya membangun sebuah rumah bergaya klasik sebagai wujud masih adanya rasa kasih sayangnya kepada Kyle. Selain menyiapkan rumah, ayah Kyle sudah menyiapkan pembantu dan tukang kebun khusus untuk Kyle. Disaat ia hampir frustasi dengan keadaannya, ia pun bertemu Lindy yang ternyata adalah anak dari tukang kebun rumah baru Kyle.
Hanya Lindy satu-satunya harapan Kyle. Gadis biasa dan miskin yang sempat diberinya sekuntum mawar yang diambilnya dari kebun rumahnya. Gadis yang dulu tak pernah diliriknya dan menjadi sasaran ejekannya. Setelah Kyle berhasil membawa Lindy ke rumahnya, gadis itu tetap tidak tertarik. Lindy tak suka baju, tas, ataupun make up. Sekamar penuh barang-barang bermerek pun tak diliriknya. Namun setelah berhari-hari tinggal bersama Kyle di rumah itu, Lindy luluh. Mereka mulai merasakan sesuatu yang lain, perasaan aneh yang kemudian mereka kenal dengan nama, cinta. Cinta sejati yang mampu mengubah sosok Kyle menjadi sedia kala.


Rabu, 05 Oktober 2011

Love Experience (TUGAS MOS)


Aku adalah seorang remaja putri berumur 15 tahun. Kali ini aku akan mencoba menceritakan salah satu pengalaman cinta yang pernah aku alami saat masih duduk di bangku SMP. Kisah ini terjadi saat aku berusia 14 tahun, tepatnya ketika aku sedang duduk di bangku kelas 3 SMP.
Aku bukan termasuk orang yang pintar mencari perhatian teman atau guru dan bukan juga type orang yang gampang akrab dengan orang lain. Di tambah lagi aku tidak terlalu cantik, tidak terlalu pintar, tidak juga memiliki banyak kelebihan yang bisa di banggakan, pkoknya aku bukan type perempuan yang mampu menarik perhatian dan membuat orang lain terperanga hanya dengan sekali melihatku. Intinya, I’m just an ordinary girl yang terjebak di antara warga dunia no 1 serta popular boys and girls di sekolah. Awalnya memang sangat aneh berada di tengah-tengah mereka. Tapi setelah lama saling mengenal, aku merasa bergaul dengan mereka tidak terlalu buruk.
Hmmm.. Jujur, di kelas ada seorang laki-laki yang aku suka walaupun aku sadar aku ngga bakalan mungkin dapetin tuh cowok. Alasan satu-satunya adalah karena he’s one of the top 10 the most popular boys on the school. Sebenarnya aku sangat ingin bisa menyandang status sebagai pacarnya. Namun, sekali lagi karena aku sadar diri, aku membuang jauh-jauh keinginanku itu.
Namun, ternyata Tuhan punya rencana lain. Disaat aku sudah bisa membuang hasratku untuk bersama cowok itu, aku malah di buat semakin dekat dengan cara menjadikan kami satu kelompok untuk mendekor panggung dalam rangka UP menari. Sejak saat itu aku menjadi semakin dekat dengannya. Berawal dari hanya mengobrol saat sedang menghias panggung, kemudian berlanjut tembok-tembokan di fb, sampai akhirnya kami bertukar nomer hp dan semakin lama kami berdua menjadi semakin dekat. Alhasil, rasa suka yang sempat terpendam kini bersemi kembali. #halah, bahasa gueh --‘
Singkat cerita, saat itu kami sudah berhasil melalui seluruh ujian-ujian yang lumayan membuat otak serasa terpelintir. Rencanya sih aku ingin mengajak teman-temanku ---yang notabene adalah anak-anak abegeh yang always up to date sama perkembangan zaman--- pergi bersamaku ke pantai. Namun karena mereka termasuk anak-anak gahol, jadi mereka tentu saja memiliki tmpat tujuan lain yang lebih menarik dan tentunya lebih jauh juga. Awalnya mereka mengajakku bergabung bersama mereka, tapi berhubung aku adalah anak rumahan yang tidak di beri ijin jika pergi jauh-jauh dari rumah seorang diri, aku tidak bisa ikut bersama mereka.
Alhasil di sinilah aku sekarang. Di pantai seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemani #Kaplokk! lebay deh---. Tapi sekali lagi, Tuhan memiliki rencana lain untukku. Saat aku sibuk memandang ombak di pantai, he with his top 10 most popular gang lewat di depanku, dan entah kenapa dia duduk begitu saja di sebelahku sementara yang lain hanya pergi berlalu. Dia bertanya kenapa aku duduk sendirian di pantai seluas itu. Aku  yang masih kaget dengan kehadirannya hanya bisa terbengong-bengong melihat tampang cakepnya. Setelah berhasil menenangkan diri, aku menanggapi pertanyaanya. Tak lama kemudian terjadi percakapan santai diantara kami. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba cowok itu berkata, “Aku suka kamu, Na.”. Waaww, saat itu rasanya jantungku berpindah posisi saking kagetnya. Namun aku berusaha tetap tanang, kali aja dia cuma bercanda doang.
Me : “Masa sih? Kok bisa?? Sejak kapan?”.
He : “Auk ah terang! sejak kita jadi satu kelompok ngias panggung dan jadi deket, aku ngerasa kalo aku suka kamu.”
Me : “Nahlo, kok bisa sih? Haduh, jadi bingung nih harus nanggapin kayak gimana.”
He : “Ngga usah bingung. Aku pengen kamu jadi pacarku. Mau kan?”.
Setelah itu ia mengambil dua buah batu. Batu yg pertama menyerupai bentuk hati, sedangkan yang satunya berbentuk bulat pipih dan terlihat sangat halus.
He : “Ambil salah satu dari batu ini. Dari sana aku sudah bisa mengetahui jawabanmu.”
Aku yang sudah sadar persis apa maksudnya, buru-buru mengambil batu yang menyerupai bentuk hati. ---maklum, takut dia berubah pikiran! Hihihi ^^ ---
Dan pada detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun itu juga aku resmi jadian sama cowok pujaanku itu. HAHAHA.. asli, ga kepikiran banget bisa jadian sama tuh cowok. Walaupun cara dia nembak aku norak gila, tapi menurutku itu pengalaman yang tak terlupakan deh!

About Me

 
Story© Diseñado por: Compartidisimo